DPRD DKI Soroti Sampah 8 Ribu Ton Perhari, Minta Pemerintah Serius


JAKARTADIPLOMATS.COM, Jakarta
- Anggota DPRD DKI Dapil IV Joshepine Simanjuntak menyoroti sampah yang menggunung di wilayah Jakarta. 

Seharusnya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2019 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah harus diimplementasikan dengan baik.

Joshepine yang menduduki komisi I DPRD DKI ini mengungkapkan anggaran negara besar untuk Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKH) DKI Jakarta . 

"Saya bingung dengan Jakarta. Saya kebetulan komisi C, anggaran begitu besar tapi koq begini?" kata  Joshepine dalam acara media visit di Jakarta, Rabu (5/2/2025). 

Tak hanya itu, ia menyayangkan pemerintah terkait  anggaran yang tidak tepat sasaran dan akan merugikan warga Indonesia. 

"Ngapain minta duit (anggaran) sama kita tapi kalian tidak melakukan itu ke masyarakat," jelas Joshepine. 

Dia juga menekan agar Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DKI Jakarta  berperan aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar ilmu tentang kebersihan lingkungan dapat terjaga dengan baik. 

"Saya marah dengan LKH? Kenapa tidak diturunkan penyuluh-penyuluh untuk berikan edukasi pada masyarakat? Edukasi itu tidak instan, tapi hasilnya kebiasaan. Tidak bisa diajarin satu hari atau dua hari, harus terus menerus," ungkap Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini.

Diketahui, salah satu agar masyarakat sadar tentang kebersihan dengan menjalani kegiatan Bank Sampah. Namun Joshepine menilai,  saat ini Bank Sampah tidak berjalan sebagaimana mestinya. 

"Bagaimana bank sampah itu hidup, itu kan harus didampingi," cetusnya. 

Ia membayangkan jika sampah tidak dikelola dengan baik, seperti tidak diangkut ke pembuangan sampah, kedepannya manyarakat akan tidur beralaskan sampah. 

"Saya perhatikan betul, jika sampah di Jakarta kalau tidak terangkut, satu, apa dua hari kita akan tidur disampah ya, sudah terbayang hidup kita?" ujarnya. 

Dari data, saat ini sampah di Jakarta diangkut ke pembuangan  sampah terakhir di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang mencapai 8 ribu ton per hari.

Ia pernah mengungkapkan keprihatinannya kala bertatap muka dengan pejabat Lingkungan Hidup dan Kehutanan DKI Jakarta. 

"Itu pernah saya bicarakan dengan pejabat LKH waktu rapat kerja, kenapa bisa begini? Nggak diajarin memilah sampah," imbuhnya. 

Ia juga menceritakan pengalaman saat hendak pergi kunjungan kerja (kunker) ke Banten. Pas lewat tol Cibitung ketika dalam mobil dengan kaca mobil yang tertutup rapat, dari kejauhan ia melihat  tempat sampah yang menumpuk dan bau yang menyengat.

"Lewot tol Cibitung melihat tumpukan sampah yang begitu hebatnya, dari tol yang agak jauh aja sudah kecium baunya. Gimana masyarakat di sekitar situ  ngeri banget, Jakarta seperti setiap hari," ungkapnya prihatin. 

Joshepine yang baru menjadi menjabat anggota Dewan yang mewakili  rakyat ini juga memuji Pulau Bintan, Tanjung Pinang Kepulauan Riau dalam mengelola sampah. 

"Di pulau Bintan itu masyarakat sudah diedukasi oleh LKH, yang memilah sampah dari rumah tangga dan lingkungan bersih. Spanduk di jalan besar mengatakan harus melakukan pilah sampah," jelasnya. 

Selanjutnya Joshepine penasaran bagaimana mereka melakukan pembuangan sampahnya, karena ia menilai cukup baik dalam pengelolaan sampah. 

"Memang belum seperti Bandar Gebang, mereka membakar sedikit demi sedikit. Mereka mengurangi sampah dengan membakar, ada tempat pembakarannya," pungkasnya. (RP)

Posting Komentar

0 Komentar